Hot Posts

4/footer/recent

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label DPRD RI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DPRD RI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Desember 2024

Abdullah Hakim Tinjau Langsung Sengketa Tanah di Way Huwi, Tekankan Penyelesaian Adil dan Serukan Mediasi


GK, Lampung
– Anggota DPD RI Dapil Lampung, Dr. KH. Ir. Abdullah Hakim MM, melakukan peninjauan langsung ke lokasi sengketa tanah makam dan Lapangan Bola yang terletak di Way Huwi, pada Jumat, 13 Desember 2024.

Kunjungan ini bertujuan untuk mendengarkan aspirasi warga setempat yang khawatir akan dampak pembangunan yang dilakukan oleh PT. BTS terhadap keberadaan makam leluhur mereka.

Dalam pertemuan tersebut, Dr. KH. Abdullah Hakim mendengarkan kekhawatiran masyarakat dan menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau proses penyelesaian sengketa ini. "Kami berharap ada jalan tengah yang dapat diterima oleh semua pihak, tanpa mengorbankan kepentingan dan hak masyarakat setempat," ujar beliau.

Abdullah Hakim juga meminta PT. BTS anak perusahaan CV. BUMI WARAS untuk menghentikan seluruh aktivitas pembangunan di wilayah tersebut sampai adanya kesepakatan yang jelas antara kedua belah pihak. Beliau mendorong agar dilakukan mediasi yang konstruktif, guna mencari solusi yang dapat memenuhi kebutuhan kedua pihak tanpa merugikan satu sama lain.

Abdullah Hakim menegaskan bahwa kunjungan tersebut menjadi langkah awal yang konkret dalam mencari penyelesaian sengketa yang dapat diterima oleh semua pihak, tanpa merugikan masyarakat setempat.


Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Way Huwi, Muhammad Yani, berharap agar pemerintah pusat, khususnya kabinet Merah Putih yang dipimpin oleh Prabowo, dapat turun langsung untuk mengusut tuntas kasus sengketa ini. Yani juga meminta agar Kementerian ATR/BPN dan Satgas Mafia Tanah segera turun tangan, menindak tegas praktik mafia tanah yang kerap terjadi, mengingat PT. BTS sudah berulang kali terlibat dalam kasus serupa.(Yuli)

Rabu, 25 Januari 2023

Fraksi Gerindra Dukung Presiden Jokowi, RUU PPRT Harus Segera Dibahas


GK, Jakarta - Ketua Fraksi Gerindra DPR RI Ahmad Muzani mendukung sikap Presiden Joko Widodo dalam upaya percepatan pengesahan RUU tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT).

Fraksi Gerindra, kata Muzani, telah memberikan instruksi kepada anggotanya yang berada di Komisi IX DPR untuk fokus terhadap percepatan pengesahan RUU PPRT tersebut. Demikian siaran pers yang diterima kantor pusat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) di Jakarta, Rabu (25/1/2023).

Menurut Muzani, RUU PPRT ini adalah bentuk keseriusan pemerintah dan DPR dalam memberikan perlindungan hukum di sektor pekerja rumah tangga. Karena aturan yang ada selama ini belum bisa memberikan proteksi yang kuat bagi para pekerja rumah tangga.

“Pada konteks kehidupan modern saat ini, keberadaan dan peran pekerja rumah tangga sangat diperlukan. Namun pada faktanya memang belum ada proteksi hukum perundang-undangan yang memberikan perlindungan kepada para pekerja rumah tangga itu sendiri,” kata Muzani dalam keterangannya.

"Itu sebabnya Fraksi Gerindra mendorong agar RUU PPRT ini segara dibahas dan ditetapkan sebagai undang-undang," tambahnya.

Menurut Muzani, peraturan perundangan yang mengatur tentang perlindungan hukum bagi pekerja rumah tangga selama ini hanya diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker). Sehigga tidak ada payung hukum yang kuat dalam memberikan perlindungan serta pengakuan bagi pekerja rumah tangga itu sendiri.

"Bahwa Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan belum mengatur tentang pekerja rumah tangga, termasuk hak-haknya. Itu sebabnya pengesahan RUU ini menjadi penting karena sebagai bentuk pengakuan dan keberpihakan negara kepada para pekerja rumah tangga domestik yang jumlahnya mencapai 4,2 juta orang,” imbuh Wakil Ketua MPR itu.

Muzani mengatakan, keberadaan RUU PPRT ini juga dimaksudkan untuk membangun ekosistem kerja yang baik antara pekerja dan majikannya, yakni dengan mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan dalam hubungan kerja tersebut. Serta diharapkan RUU ini dapat mengatur tentang standarisasi profesi PRT melalui pendidikan dan pelatihan yang memadai.

"Dengan begitu hubungan antara pekerja dan pemberi kerja itu bisa terbangun dengan baik karena adanya kepercayaan dan kesepakatan tentang profesionalitas dan keterampilan PRT yang sudah terstandarisasi," ujar Sekjen Gerindra itu.

Menurut Muzani, keberadaan RUU PPRT juga akan menjadi preseden baik bagi negara-negara di luar negeri yang selama ini dianggap tidak menghargai tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berada di luar negeri. Dengan penguatan perlindungan terhadap PRT domestik, Muzani meyakini negara-negara yang menjadi tujuan para pekerja Indonesia akan lebih dihargai.

"Selama ini ada banyak kasus hukum yang menimpa TKI kita di luar negeri karena negara-negara tujuan mereka bekerja itu menganggap tidak adanya pengakuan dan perlindungan dari negara asalnya. Sehingga diharapkan melalui RUU PPRT ini, para pekerja kita di luar maupun di dalam negeri bisa lebih diakui dan dihormati," jelas Muzani.

Sekjen Partai Gerindra ini menambahkan, RUU PPRT ini juga tidak boleh memisahkan faktor kekerabatan dalam sektor pekerja rumah tangga. Karena pada umumnya pekerja rumah tangga yang di Indonesia berbeda dengan negara-negara lain. Sering kali pemberi kerja memberikan pekerjaan rumah tangga itu kepada orang yang masih memiliki hubungan darah.

“Umumnya PRT di Indonesia itu bekerja dengan majikan yang masih memiliki unsur hubungan darah atau kekerabatan. Sehingga perlu ditegaskan bahwa RUU PPRT ini tidak boleh memisahkan faktor-faktor tersebut. Profesionalitas dalam sektor pekerja rumah tangga ini juga harus dijelaskan dalam RUU tersebut," tutup Muzani. [rls]