LAMPUNG — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menata kawasan pesisir secara terpadu sebagai salah satu strategi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal tersebut disampaikan Gubernur saat menjadi keynote speaker sekaligus membuka Seminar Nasional bertajuk “Menata Pesisir: Wujudkan Waterfront City untuk Lampung Maju” yang diselenggarakan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Lampung di Swiss-Belhotel, Kamis (20/8/2026).
Dalam arahannya, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal mengatakan Lampung memiliki potensi pesisir yang sangat besar. Selain memiliki garis pantai strategis yang berada di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, Lampung juga memiliki sejumlah teluk dengan potensi wisata, ekonomi, perdagangan, dan investasi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Menurutnya, potensi tersebut harus mampu diubah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan pertumbuhan ekonomi dapat terus didorong hingga berada di atas 8 persen sebagai bagian dari upaya menopang visi Indonesia Emas.
“Pertanyaannya bukan lagi apakah Lampung sudah punya potensi. Pertanyaannya adalah sudah sejauh mana potensi itu kita ubah menjadi pertumbuhan ekonomi yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Gubernur.
Pariwisata Jadi Motor Ekonomi Baru
Gubernur menjelaskan, sektor pariwisata merupakan salah satu motor penggerak ekonomi baru yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Lampung.
Ia menyebut, sepanjang 2025 kunjungan wisatawan nusantara ke Lampung tercatat mencapai sekitar 27 juta kunjungan, meningkat dibandingkan sekitar 17 juta kunjungan pada 2024. Aktivitas pariwisata tersebut juga memberikan kontribusi ekonomi yang diperkirakan mencapai sekitar Rp55 triliun terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung.
Namun demikian, menurut Gubernur, peningkatan jumlah wisatawan belum cukup. Tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat wisatawan tinggal lebih lama dan meningkatkan belanja selama berada di Lampung.
“Strateginya Provinsi Lampung ke depan adalah bagaimana wisatawan nusantara yang datang, tinggal lebih lama, belanja lebih banyak. Maka ekonominya tumbuh,” tegasnya.
Ia menilai pengembangan kawasan pesisir dengan konsep waterfront city dapat menjadi salah satu instrumen untuk menciptakan destinasi yang terintegrasi, menarik, nyaman, dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
Waterfront City 27 Kilometer
Dalam pengembangan kawasan pesisir Kota Bandar Lampung, Gubernur menyoroti rencana pembangunan Waterfront City sepanjang sekitar 27 kilometer yang telah digagas sejak belasan tahun lalu.
Menurutnya, rencana tersebut memiliki potensi besar, tetapi pelaksanaannya selama ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk persoalan tata ruang, kepentingan antarsektor, serta koordinasi antar pemangku kepentingan.
Gubernur menegaskan pembangunan kawasan pesisir tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kesamaan visi antara pemerintah provinsi, pemerintah kota, pemerintah pusat, dunia usaha, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Penataan ini tidak bisa dilakukan oleh kotamadya sendiri. Pemprov harus sepakat dengan master plan ini, swasta harus sepakat dengan master plan ini,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong agar seluruh pihak meninggalkan ego sektoral dan membangun satu master plan yang menjadi acuan bersama dalam pengembangan kawasan pesisir.
PII Diminta Berikan Kepakaran
Untuk mewujudkan kawasan pesisir yang modern sekaligus berkelanjutan, Gubernur menitipkan sejumlah arahan strategis kepada para insinyur dan pemangku kebijakan.
Pertama, diperlukan perencanaan kawasan yang terintegrasi dan bertumpu pada komitmen bersama seluruh pihak.
Kedua, pembangunan harus menjaga keseimbangan antara ekologi dan kesejahteraan masyarakat, termasuk dengan memperhatikan mitigasi persoalan lingkungan dan sosial yang berpotensi muncul akibat pengembangan kawasan pesisir.
Ketiga, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu menetapkan target awal yang realistis atau quick wins sehingga manfaat pembangunan dapat segera dirasakan masyarakat sekaligus meningkatkan daya tarik wisata.
Keempat, setiap rencana investasi harus disiapkan secara menyeluruh, mulai dari aspek tata ruang, kepastian legalitas, studi kelayakan, dokumen lingkungan, hingga skema pembiayaan.
Dengan demikian, proyek yang selama ini masih berada pada tahap gagasan dapat ditingkatkan menjadi proyek yang benar-benar siap ditawarkan kepada investor atau project ready to offer.
Gubernur berharap PII Wilayah Lampung dapat terus memberikan kontribusi keahlian dan kepakaran dalam merumuskan pembaruan rencana tata ruang kawasan pesisir yang aplikatif dan mampu menjawab kebutuhan pembangunan daerah.
“Pemerintah membutuhkan kepakaran para insinyur agar perencanaan yang kita susun bukan hanya bagus di atas kertas, tetapi dapat dilaksanakan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui kolaborasi tersebut, penataan kawasan pesisir diharapkan tidak sekadar menghasilkan wajah baru kota, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi, membuka lapangan kerja, meningkatkan daya saing investasi, memperkuat sektor pariwisata, serta tetap menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir Lampung.




















