Bandar Lampung – Seminar Nasional World Bee Day 2026 berlangsung di Hotel Horison Lampung, Kamis (18/6/2026), dengan mengangkat tema “Lebah untuk Sawit Berkelanjutan: Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Peningkatan Produktivitas Kelapa Sawit.
Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Lebah Sedunia tersebut menghadirkan akademisi, peneliti, praktisi perlebahan, pelaku industri kelapa sawit, serta mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Seminar ini diikuti sekitar 250 peserta dan menjadi wadah pertukaran ilmu pengetahuan serta penguatan jejaring penelitian terkait peran lebah dalam mendukung sektor pertanian berkelanjutan.
Ketua Pelaksana Seminar Nasional World Bee Day 2026,Dr. Puji Lestari, menjelaskan bahwa tema yang diangkat bertujuan mengkaji potensi lebah sebagai alternatif penyerbuk tanaman kelapa sawit.
“Selama ini penyerbukan kelapa sawit sangat bergantung pada kumbang penyerbuk Elaeidobius kamerunicus. Melalui seminar ini, kami ingin melihat peluang dan potensi lebah sebagai salah satu penyerbuk tambahan yang dapat mendukung peningkatan produktivitas kelapa sawit,” ujarnya.
Menurutnya, apabila hasil penelitian menunjukkan bahwa lebah memiliki potensi sebagai penyerbuk kelapa sawit, maka manfaat yang dihasilkan akan sangat besar. Selain membantu meningkatkan produktivitas tanaman, keberadaan lebah juga dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi seperti madu yang mampu menambah pendapatan para peternak lebah.
“Jika lebah dapat berperan sebagai penyerbuk, maka manfaatnya berlipat. Produktivitas sawit meningkat, peternak memperoleh tambahan pendapatan dari hasil madu, dan konservasi keanekaragaman hayati juga semakin terjaga,” katanya.
Pentingnya Menjaga Populasi Lebah
Dalam kesempatan tersebut, Puji juga menyoroti pentingnya upaya menjaga populasi lebah yang saat ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk berkurangnya sumber pakan dan penggunaan pestisida yang tidak terkendali.
Menurutnya, langkah paling efektif untuk mencegah penurunan populasi lebah adalah menjaga kualitas lingkungan dan ketersediaan sumber pakan.
“Lebah akan bertahan apabila sumber makanannya tersedia. Karena itu, agroekosistem harus dijaga dan ditingkatkan dengan menyediakan tanaman berbunga yang menghasilkan nektar dan polen sepanjang tahun,” jelasnya.
Beberapa jenis tanaman yang direkomendasikan antara lain bunga air mata pengantin, berbagai jenis bunga liar berbunga sepanjang musim, serta bunga matahari berukuran kecil yang menjadi sumber nektar dan polen bagi lebah.
Selain itu, ia mengingatkan para petani agar lebih bijak dalam penggunaan pestisida. Aplikasi pestisida sebaiknya tidak dilakukan saat lebah aktif mencari makan.
“Lebah biasanya mencari pakan pada pagi hingga sore hari. Karena itu, waktu aplikasi pestisida perlu disesuaikan agar tidak mengganggu aktivitas lebah. Satu kali aplikasi yang tidak tepat dapat menyebabkan satu koloni lebah mengalami keracunan,” ujarnya.
Dihadiri Akademisi dan Peneliti Nasional
Seminar nasional ini menghadirkan peserta dan pemakalah dari berbagai perguruan tinggi serta lembaga penelitian di Indonesia, di antaranya IPB University, Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), BRIN, dan sejumlah institusi lainnya.
Puji menyebutkan bahwa penyelenggaraan seminar dilakukan secara bergilir setiap tahun. Setelah tahun sebelumnya digelar di Universitas Padjadjaran, tahun ini Universitas Lampung mendapat kesempatan menjadi tuan rumah.
Rangkaian kegiatan World Bee Day 2026 berlangsung selama tiga hari. Hari pertama diisi dengan seminar nasional dan stadium general, hari kedua seminar paralel serta kunjungan ke kawasan edukasi Lembah Sejuta Lebah, sedangkan hari ketiga peserta akan mengikuti kegiatan lapangan di kawasan wisata Pahawang untuk mengenal potensi wisata dan keanekaragaman hayati Lampung.
Perkuat Jejaring dan Riset Perlebahan
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan dapat memperluas kolaborasi penelitian sekaligus menghasilkan rekomendasi ilmiah terkait pengembangan perlebahan di Indonesia.
“Harapan kami, kegiatan ini membuka jejaring penelitian yang lebih luas. Jika penelitian menunjukkan lebah berpotensi menjadi penyerbuk kelapa sawit, maka ini bisa menjadi alternatif yang sangat baik untuk mendukung produktivitas sekaligus menjaga keanekaragaman hayati,” ujarnya
Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan spesies lebah yang sangat besar dan menjadi salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Oleh karena itu, upaya konservasi lebah tidak hanya penting bagi sektor pertanian, tetapi juga bagi keberlanjutan ekosistem secara keseluruhan.
“Semakin banyak spesies lebah yang dapat hidup dan berkembang, maka semakin terjaga pula keanekaragaman hayati Indonesia yang menjadi aset berharga bagi generasi mendatang,” pungkasnya.







0 komentar:
Posting Komentar