Bandar Lampung — Dedi Yuginta, SE, M.Si, menggelar kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK) bersama masyarakat,pada Minggu (11/10/2026),di Nakip No 28, kel,kita baru,kec.Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai Pancasila, menumbuhkan rasa cinta tanah air, serta menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah perkembangan zaman.
Dalam kegiatan tersebut, Dedi Yuginta menyampaikan bahwa Pancasila merupakan dasar negara, pandangan hidup bangsa, sekaligus sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Karena itu, nilai-nilai Pancasila perlu terus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Ia mengajak masyarakat untuk mengikuti pemaparan narasumber dengan baik agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan tersebut, tetapi juga diteruskan kepada keluarga, tetangga, dan lingkungan sekitar.
“Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan ini sangat penting untuk kita semua. Apa yang disampaikan narasumber hendaknya menjadi bekal dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dedi juga mengingatkan pentingnya mencintai Tanah Air, termasuk dengan menghargai produk dalam negeri dan budaya Indonesia. Menurutnya, masyarakat perlu menjaga identitas bangsa agar tidak kehilangan jati diri di tengah pengaruh budaya asing.
Ia turut menjelaskan bahwa DPRD memiliki tiga fungsi utama, yakni pembentukan peraturan daerah, penganggaran, dan pengawasan. Melalui fungsi tersebut, DPRD berupaya menjalankan tugasnya untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Sementara itu, narasumber Rahmat Nafindra, menekankan bahwa Pancasila merupakan pemersatu bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, ras, dan budaya.
Ia menjelaskan, Pancasila lahir dari pemikiran para pendiri bangsa, termasuk pidato Presiden pertama RI, Soekarno, pada 1 Juni 1945. Nilai-nilai Pancasila menjadi landasan penting dalam menjaga persatuan dan mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami kembali tujuan bernegara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Rahmat juga menyoroti tantangan globalisasi yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari perubahan pola hidup hingga melemahnya semangat kebersamaan.
Ia mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong, saling membantu, dan peduli terhadap sesama, terutama di tengah berbagai tantangan global yang turut memengaruhi kondisi ekonomi dan ketahanan pangan.
Pada kesempatan yang sama, Taufik Hidayatullah, menekankan pentingnya menjaga jati diri bangsa melalui pemahaman nilai-nilai Pancasila dan pelestarian kebudayaan Indonesia.
Menurut Taufik, perkembangan zaman dan derasnya pengaruh budaya luar perlu disikapi secara bijak, terutama dalam mendidik generasi muda agar tetap mengenal dan menghargai budaya bangsa sendiri.
“Nilai-nilai kebudayaan kita sedikit terkikis. Anak-anak kita sudah mulai mengikuti gaya kebarat-baratan. Karena itu, penting bagi kita untuk kembali memperkuat pemahaman tentang Pancasila dan wawasan kebangsaan,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan pembinaan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Melalui kegiatan PIP-WK ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami Pancasila sebagai dasar negara, tetapi juga menjadikannya pedoman dalam bertindak, memperkuat solidaritas sosial, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

0 Komentar