Hot Posts

4/footer/recent

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Oktober 2021

Di Warkop WAW, Meracik Kopi Meracik Puisi


Lampung -
Meracik kopi meracik puisi. Itulah tema yang dibahas Paus Sastra Lampung Touring di Warung Kopi WAW, Kamis (7/10/2021) malam.

Dialog sastra tur buku puisi "Secangkir Kopi di Meja Kedai" menghadirkan owner Warkop WAW, Ismail Komar dan Isbedy Stiawan ZS.

Hadir pula produser Djadin Production, David dan Erwin dari BJB yang kebetulan tengah menikmati racikan kopi Warkop WAW di Jalan Turi Raya, Tanjungsenang, Bandarlampung.

Ismail Komar yang menggeluti bisnis minuman kopi setelah sehat karena minum kopi, punya tagline 'kopi sehat'.

Ia menjelaskan, sebenarnya cara meracik kopi di tempatnya biasa saja.

"Yang tidak biasa memilih kopi berkualitas yang ditanam di Provinsi Lampung. Di sini kami sediakan 99 rasa," ungkapnya.

Ia juga mendemo cara membuatkan kopi, lalu menyajikan. Ada juga biji kopi yang diseduh air panas, sebagai kopi sehat.

"Ada bedanya kopi WAW dan kopi umum," ujarnya lagi.

Ditambahkan, ia tak menyajikan kopi yang nimat melainkan kopi sehat. Soal nikmat sifatnya selera.

Warkop WAW sudah dikenal di Lampung, bahkan luar daerah hingga mancanegara.

Sementara Isbedy Stiawan ZS menjelaskan, pembacaan puisi dan dialog sastra dari kafe ke kafe bagian dari perjalanan bersama kru kanal youtube Paus Sastra Lampung.

"Saya baru menerbitkan buku puisi bertema kopi hasil kunjungan berbagai kafe atau kedai (warung kopi). Saatnya saya bacakan untuk konten youtube saya di beberapa kafe di Lampung," jelasnya.

Isbedy juga menjelaskan cara meracik puisi. Dari mendapatkan ide, memilih kata menjadi kalimat, dan disajikan sebagai puisi dengan menerapkan imajinasi, simbol, ataupun pencitraan.

"Puisi yang baik menurut saya, dari gagasan sudah baik dan ditulis dengan bahasa/kata yang baik dan benar pula," ungkapnya.

Keduanya sepakat bahwa puisi dan kopi selalu melengkapi. Menikmati kopi sambil menyelami puisi.

"Mayoritas seniman (sastrawan) penyuka kopi. Di kafe sambil menikmati kopi, kerap datang inspirasi," kata Isbedy.

Tim Djadin Production untuk kanal Paus Sastra Lampung diperkuat Iwang Bagas Tama (kameramen/editor) dan Vian.co.id sebagai audio dan kameramen. [Sur]

Minggu, 22 Agustus 2021

GM: Pengajaran Sastra Bukan Mengenalkan Pengarangnya


JAKARTA - Goenawan Mohammad menilai pengajaran sastra di sekolah ataupun perguruan tinggi hanya mengenalkan pengarangnya.

Demikian dikatakan sastrawan dan esais yang terkenal dengan Catatan Pinggir (Caping) di Tempo itu pada Sarasehan dalam Jaringan (Sadaring) yang diadakan Satupena, Minggu (22/8) pukul 10.00 sd 12.00.

Sadaring Persatuan Penulis Indonesia - Satupena ke 2 ini, dipandu Geger Riyanto dan Debra H. Yantim, serta dihadiri oleh 5 ketua presidium Satupena.

GM menilai, pengajaran sastra seharusnya bagaimana membahas bahasa dan tafsir terhadap karya sastra. Tetapi, kecenderungan yang ada ialah membahas pengarang (tokohnya).

"Misal ada seorang dosen yang membahas Rendra yang dikenal sebagai Burung Merak. Padahal, bahasa yang digunakan Rendra dalam karya-karyanya sangat bagus, kenapa tidak kebahasaan dalam karya sastra yang diajarkan," kata GM tanpa menjelaskan ihwal dosen tersebut.

Cara pandang ini dinilai GM berlanjut pada pemberian penghargaan. Dia mencontohkan penghargaan Nobel yang dianggap sebagai prestasi, puncak dalam kesusastraan dunia.

"Tapi kelemahan dalam penjurian Nobel Sastra, juri yang dirahasiakan namanya, tidak banyak mengenal sastra dunia," tukasnya.

Pada kesempatan itu, GM mengajak Satupena agar memerhatikan kesejahteraan penulis Indonesia.

Misalnya, kata dia lagi, bagaimana sebaiknya mengusahakan agar royalti dibayar dengan baik, bagaimana buku dibaca lebih banyak. Lalu perbaiki besar-besaran pendidikan sastra di sekolah (dan PT, red.) ketimbang fokus pada penghargaan.

GM juga membandingkan kesejahtraan bagi sastrawan Indonesia dengan di luar negeri.

"Kalau di Amerika, sastrawan yang bagus karyanya namun kurang dalam soal kehidupannya, akan diberi ruang misal sebagai pengampu di sekolah atau kampus," ungkap Goenawan Mohammad.

Tentang ajang penghargaan juga dibahas Linda dan Dee Lestari.

Kedua pembicara ini juga sepakat bahwa tidak menapikan penghargaan namun bukan tujuan utama.

Dee Lestari mengibaratkan, dalam hidup ini yang kita butuhkan adalah makanan utama dan bukan makanan penutup.

"Makanan utama itu wajib bagi kita karena di sana akan menghilangkan lapar dan ada gizi. Tetapi, makanan penutup boleh ada boleh tidak. Jadi makanan utama adalah berkarya, sedangkan penghargaan saya ibaratkan makanan penutup," ujar Dee.

Linda menyebut tak sedikit ajang pengahargaan tidak lepas dari politis dan ideologis. | red

Benahi Ekosistem Kepenulisan, Bukan Sekadar Beri Penghargaan


Daring -
Penghargaan kepada penulis atau penghargaan sastra bukanlah sesuatu yang penting atau utama. Ada berbagai hal yang membuat penghargaan menimbulkan kontroversi dan polemik tidak produktif.  Tetap menulis dan berkarya menghasilkan beragam tulisan bermutu, memperbaiki ekosistem kepenulisan, itulah hal sangat penting yang perlu bersama dikembangkan, termasuk oleh Persatuan Penulis Indonesia - Satupena. (Jakarta, 22 Agustus 2021)

“Tidak ada ukuran yang pasti dalam penghargaan penulis, termasuk dalam sastra. Jadi sebaiknya penghargaan terhadap penulis, mesti dilihat sebagai undangan untuk melakukan pembahasan atau discourse lebih dalam tentang karya penulis tersebut,” kata Goenawan Mohamad ketika tampil sebagai pembicara dalam sarasehan daring (Sadaring) Satupena ke-2 yang digelar pada Minggu siang (22/8).  Sebagian penghargaan, sayangnya, tidak berfokus pada karya namun pada sosok penulis atau pengarang. Publik bisa membaca sendiri bagaimana karya penulis yang diberi penghargaan, lalu menilai apakah penghargaan tersebut beralasan atau tidak.

Dewi Lestari, dalam pengantar Sadaring, menyampaikan posisi suatu penghargaan bagi seorang penulis. Ibarat makanan, “Penghargaan itu seperti makanan penutup yang manis.  Ada atau tidak, bukan jadi  masalah. Yang penting adalah makanan utamanya atau karya itu sendiri,” kata Dee.

Dee mengatakan, penghargaan adalah dinamika dunia kepenulisan, apresiasi atas kerja keras kita sebagai penulis. Namun, seperti halnya apresiasi pembaca, maka penghargaan adalah sesuatu yang tak bisa dikendalikan penulis. Sebaiknya, menurut Dewi Lestari, penulis fokus hal-hal yang dapat dikendalikan, yakni menjaga kualitas karyanya.

Sadaring Satupena ke-2 yang dihadiri hampir 200 peserta ini dimoderatori Debra H. Yatim dan Geger Riyanto bertema “Penulis, Pengharagaan, dan Marwahnya”. Sayangnya Eka Kurniawan batal hadir. Sebelum diskusi, penyair Dyah Merta membacakan puisi tentang seorang ibu yang kesulitan memberikan susu pada anaknya.

Lebih lanjut, Goenawan yang penulis dan pendiri Tempo mengatakan, penghargaan sastra bukanlah tujuan utama penulis. Ketiadaan ukuran yang pasti, subyektivitas penyelenggara, juga kendala bahasa membuat penghargaan atas karya-karya penulis selalu berpotensi menimbulkan kontroversi.

Tradisi penghargaan sendiri sudah hadir sejak masa Yunani lama, 200 tahun SM. Hadiah Nobel untuk sastra, yang dianggap sebagai prestasi puncak dalam bidang kesusastraan dunia, pun tak lepas dari polemik dan kelemahan dalam penjurian. Juri Nobel sastra, yang dirahasiakan namanya, dianggap tidak cukup banyak mengenal sastra dunia karena kemungkinan terkendala bahasa asli dari asal negara sastrawan, misalnya dari Indonesia. Juga karya-karya sastrawan Rusia, seperti Leo Tolstoy yang tidak mendapat penghargaan, karena ditulis dalam bahasa Rusia yang tak diketahui juri dengan baik.

“Jadi, kalau hadiah Nobel saja menimbulkan kerancuan karena yang diumumkan adalah nama penulisnya, bukan karyanya, apalagi peghargaan penulis atau sastrawan di Indonesia. Lebih baik fokus pada karya," kata Goenawan.

Satupena, Goenawan menyarankan, lebih baik berfokus pada membenahi dunia kepenulisan. Misalnya, bagaimana penulis mendapatkan hak-hak dan royaltinya dibayarkan dengan baik dan melawan pembajakan. "Yang juga lebih mendasar, bagaimana agar masyarakat bisa lebih luas mengapresiasi karya sastra. Selama ini, pengajaran sastra di sekolah adalah menghafal nama dan judul buku. Bukan pada memahami, melakukan kritik, dan mengapresiasi karya. Chairil Anwar itu menjadi penyair besar karena dia tekun melakukan kritik pada karya sastra," kata Goenawan.  Perbaikan besar-besaran dalam pendidikan sastra di sekolah lebih penting ketimbang fokus pada penghargaan.

Menjawab pertanyaan tentang peran media dalam menumbuhkan perkembangan sastra, GM mengatakan, kekurangan sastra kita adalah menelaah karya kita sendiri. Harus diakui, media di Indonesia kurang menyediakan ruang untuk karya sastra. Ruang perbincangan tentang sastra semakin menyempit dan makin berkurang pula elaborasi kritik sastra. “Tradisi menulis risalah sangat penting sebagai bagian refleksi dari apa yang telah kita tuliskan,” kata Goenawan. Soal format, bisa online, cetak, itu bukanlah masalah.  Yang penting, kita harus menumbuhkan apresiasi dan kritik penulisan, termasuk pada karya sastra.

Benahi Ekosistem Kepenulisan

 Pada forum yang sama, penulis Linda Christanty mengakui, penghargaan tetap dibutuhkan sebagai apresiasi bagi penulis. Bahwa karyanya berkualitas dan penting untuk dihargai. Namun demikian, kritik perlu disampaikan terhadap lembaga pemberi penghargaan dan mekanisme penghargaan tersebut. Sebab pemberian penghargaan tak lepas dari kepentingan politik maupun kepentingan segelintir orang yang berkuasa di panitia atau komite penghargaan. Penjurian di Indonesia seringkali dilingkupi oleh KKN yang akhirnya mengubah hasil akhir penjurian.

Linda kemudian bercerita bagaimana proses pemberian penghargaan dari sebuah lembaga internasional. Ada beberapa nama dari Indonesia yang masuk dalam daftar, namun tidak terpilih. Kriteria yang digunakan untuk memilih pemenang rupanya adalah jumlah suara dari publik, tentu saja banyak orang tidak mengenal calon dari Indonesia. “Seharusnya penerima penghargaan ditentukan melalui riset oleh tim yang ditunjuk lembaga. Penentuan penghargaan bukan berdasar kelihaian sang penulis melakukan mobilisasi suara. Yang menang pastilah yang jago dan punya akses memobilisasi suara, sedangkan kita tahu bahwa di sejumlah negara, akses menggunakan internet dikuasai tentara dan politisi,” kata Linda.

Linda Christanty dan Dewi Lestari sepakat bahwa saat ini perjuangan terpenting asosiasi penulis adalah bagaimana penulis dapat hidup sejahtera atau tercukupi dengan hasil menulis. Tanpa kesejahteraan, sangat mungkin seorang penulis menerima penghargaan yang diberikan oleh lembaga yang tidak jelas dan yang berlawanan dengan idealisme dan marwah penulis. Karenanya, perjuangan asosiasi perlu lebih menyeluruh dan menyangkut pembenahan ekosistem. Misalnya, bagaimana penulis bisa berunding dengan lebih berdaya di hadapan penerbit, bagaimana menyusun kontrak, bagaimana melawan pembajakan, dan mendapatkan honor yang layak.

Memperjuangkan marwah penulis tidak bisa dilakukan jika dikerjakan sendiri, tetapi harus berkolaborasi dengan berbagai pihak. Keberadaan asosiasi penulis Satupena bisa menjadi salah satu media untuk perjuangan tersebut. “Kita bisa membentuk koperasi atau wadah lain yang bisa membantu sesama penulis,” kata Linda Christanty menutup paparan. | red