Hot Posts

4/footer/recent

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label zoom meet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zoom meet. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 September 2021

Kapolda Lampung Hadiri Kegiatan Vicon Bhakti Sosial Alumni AKPOL 1995


Bandar Lampung -
Kapolda Lampung Irjen Pol Hendro Sugiatno, mengikuti kegiatan Video Conference (Vicon) kegiatan bakti sosial alumni Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1995 batalion Patria tama, pada hari Jumat pagi (3/9/2021).

Acara bakti sosial tersebut di laksanakan di gedung Pasca Sarjana UBL (Universitas Bandar Lampung), secara virtual melalui sarana Vicon dan dibuka secara resmi oleh bapak Kapolri Jendral Pol. Listyo sigit Prabowo, di ikuti 13 Polda jajaran di indonesia.

Hadir dalam kegiatan bakti sosial, rektor UBL Dr. Ir. H. M. Yusuf, S. Barusman, MBA dan alumni Akpol tahun 1995 serta Pejabat Utama Polda Lampung.

Kapolda Lampung Irjen Pol Hendro Sugiatno, dalam sambutannya mengatakan, "pagi ini kita melaksanakan kegiatan Vaksinasi covid-19 dan bakti sosial, kegiatan ini di selenggarakan oleh alumni Akpol tahun 1995 batalion Patriatama, dengan mengusung tema, Berbakti dimasa Pandemi, semoga dengan terselenggara nya acara ini, akan mendapatkan pahala dari allah swt dan khusus buat Alumni Akpol tahun 1995, sukses dalam berkarir pada dinas Kepolisian", kata Hendro (3/9).

"Kegiatan Vaksinasi ini kami menargetkan 1.100 vaksin untuk Adik-adik mahasiswa dan masyatakat sekitar.dan kegiatan ini dilaksanakan secara serentak oleh 13 Polda yang ada di Indonesia",ujar Hendro.

Karo Ops (Kepala Biro Operasi) Polda Lampung Kombes Pol Kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono, yang juga Alumni Akpol tahun 1995, mengatakan "kegiatan bakti sosial ini di laksanakan dalam rangka mendukung secara umum program pemerintah, dengan melaksanakan vaksinasi covid-19 kepada warga Bandar Lampung, secara khusus mendukung program Kapolri untuk pelaksanaan percepatan vaksinasi covid-19 ini", kata wahyu.

"Selain kegiatan vaksinasi covid-19, alumni akpol tahun 1995, yang bertugas di Polda Lampung juga mengadakan kegiatan pemberian bantuan 1000 paket sembako, pemberian voucher oksigen gratis serta pemberian bantuan 1000 nasi kotak, yang akan dibagikan kepada warga masyarakat Bandar Lampung yang kurang mampu dan masyarakat yang terdampak covid-19", tambah Wahyu.

Pada kesempatan tersebut, Rektor UBL bapak Yusuf, S. Barusman mengatakan, "kami mengucapkan terima kasih kepada Polda Lampung, khususnya kepada alumni Akpol tahun 1995, yang telah bekerja sama dengan UBL pada pelaksanaan kegiatan bakti soial ini, kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan herd immunity, pada mahasiswa dosen, dan karyawan kami, hal ini sangat bermanfaat bagi kami dan buat masyarakat Lampung, kami berharap kegiatan vaksinasi secara berlanjut bisa di laksanakan Polda Lampung, bukan hanya buat kami tetapi juga untuk masyarakat Lampung juga", kata Yusuf. | red

Minggu, 22 Agustus 2021

Benahi Ekosistem Kepenulisan, Bukan Sekadar Beri Penghargaan


Daring -
Penghargaan kepada penulis atau penghargaan sastra bukanlah sesuatu yang penting atau utama. Ada berbagai hal yang membuat penghargaan menimbulkan kontroversi dan polemik tidak produktif.  Tetap menulis dan berkarya menghasilkan beragam tulisan bermutu, memperbaiki ekosistem kepenulisan, itulah hal sangat penting yang perlu bersama dikembangkan, termasuk oleh Persatuan Penulis Indonesia - Satupena. (Jakarta, 22 Agustus 2021)

“Tidak ada ukuran yang pasti dalam penghargaan penulis, termasuk dalam sastra. Jadi sebaiknya penghargaan terhadap penulis, mesti dilihat sebagai undangan untuk melakukan pembahasan atau discourse lebih dalam tentang karya penulis tersebut,” kata Goenawan Mohamad ketika tampil sebagai pembicara dalam sarasehan daring (Sadaring) Satupena ke-2 yang digelar pada Minggu siang (22/8).  Sebagian penghargaan, sayangnya, tidak berfokus pada karya namun pada sosok penulis atau pengarang. Publik bisa membaca sendiri bagaimana karya penulis yang diberi penghargaan, lalu menilai apakah penghargaan tersebut beralasan atau tidak.

Dewi Lestari, dalam pengantar Sadaring, menyampaikan posisi suatu penghargaan bagi seorang penulis. Ibarat makanan, “Penghargaan itu seperti makanan penutup yang manis.  Ada atau tidak, bukan jadi  masalah. Yang penting adalah makanan utamanya atau karya itu sendiri,” kata Dee.

Dee mengatakan, penghargaan adalah dinamika dunia kepenulisan, apresiasi atas kerja keras kita sebagai penulis. Namun, seperti halnya apresiasi pembaca, maka penghargaan adalah sesuatu yang tak bisa dikendalikan penulis. Sebaiknya, menurut Dewi Lestari, penulis fokus hal-hal yang dapat dikendalikan, yakni menjaga kualitas karyanya.

Sadaring Satupena ke-2 yang dihadiri hampir 200 peserta ini dimoderatori Debra H. Yatim dan Geger Riyanto bertema “Penulis, Pengharagaan, dan Marwahnya”. Sayangnya Eka Kurniawan batal hadir. Sebelum diskusi, penyair Dyah Merta membacakan puisi tentang seorang ibu yang kesulitan memberikan susu pada anaknya.

Lebih lanjut, Goenawan yang penulis dan pendiri Tempo mengatakan, penghargaan sastra bukanlah tujuan utama penulis. Ketiadaan ukuran yang pasti, subyektivitas penyelenggara, juga kendala bahasa membuat penghargaan atas karya-karya penulis selalu berpotensi menimbulkan kontroversi.

Tradisi penghargaan sendiri sudah hadir sejak masa Yunani lama, 200 tahun SM. Hadiah Nobel untuk sastra, yang dianggap sebagai prestasi puncak dalam bidang kesusastraan dunia, pun tak lepas dari polemik dan kelemahan dalam penjurian. Juri Nobel sastra, yang dirahasiakan namanya, dianggap tidak cukup banyak mengenal sastra dunia karena kemungkinan terkendala bahasa asli dari asal negara sastrawan, misalnya dari Indonesia. Juga karya-karya sastrawan Rusia, seperti Leo Tolstoy yang tidak mendapat penghargaan, karena ditulis dalam bahasa Rusia yang tak diketahui juri dengan baik.

“Jadi, kalau hadiah Nobel saja menimbulkan kerancuan karena yang diumumkan adalah nama penulisnya, bukan karyanya, apalagi peghargaan penulis atau sastrawan di Indonesia. Lebih baik fokus pada karya," kata Goenawan.

Satupena, Goenawan menyarankan, lebih baik berfokus pada membenahi dunia kepenulisan. Misalnya, bagaimana penulis mendapatkan hak-hak dan royaltinya dibayarkan dengan baik dan melawan pembajakan. "Yang juga lebih mendasar, bagaimana agar masyarakat bisa lebih luas mengapresiasi karya sastra. Selama ini, pengajaran sastra di sekolah adalah menghafal nama dan judul buku. Bukan pada memahami, melakukan kritik, dan mengapresiasi karya. Chairil Anwar itu menjadi penyair besar karena dia tekun melakukan kritik pada karya sastra," kata Goenawan.  Perbaikan besar-besaran dalam pendidikan sastra di sekolah lebih penting ketimbang fokus pada penghargaan.

Menjawab pertanyaan tentang peran media dalam menumbuhkan perkembangan sastra, GM mengatakan, kekurangan sastra kita adalah menelaah karya kita sendiri. Harus diakui, media di Indonesia kurang menyediakan ruang untuk karya sastra. Ruang perbincangan tentang sastra semakin menyempit dan makin berkurang pula elaborasi kritik sastra. “Tradisi menulis risalah sangat penting sebagai bagian refleksi dari apa yang telah kita tuliskan,” kata Goenawan. Soal format, bisa online, cetak, itu bukanlah masalah.  Yang penting, kita harus menumbuhkan apresiasi dan kritik penulisan, termasuk pada karya sastra.

Benahi Ekosistem Kepenulisan

 Pada forum yang sama, penulis Linda Christanty mengakui, penghargaan tetap dibutuhkan sebagai apresiasi bagi penulis. Bahwa karyanya berkualitas dan penting untuk dihargai. Namun demikian, kritik perlu disampaikan terhadap lembaga pemberi penghargaan dan mekanisme penghargaan tersebut. Sebab pemberian penghargaan tak lepas dari kepentingan politik maupun kepentingan segelintir orang yang berkuasa di panitia atau komite penghargaan. Penjurian di Indonesia seringkali dilingkupi oleh KKN yang akhirnya mengubah hasil akhir penjurian.

Linda kemudian bercerita bagaimana proses pemberian penghargaan dari sebuah lembaga internasional. Ada beberapa nama dari Indonesia yang masuk dalam daftar, namun tidak terpilih. Kriteria yang digunakan untuk memilih pemenang rupanya adalah jumlah suara dari publik, tentu saja banyak orang tidak mengenal calon dari Indonesia. “Seharusnya penerima penghargaan ditentukan melalui riset oleh tim yang ditunjuk lembaga. Penentuan penghargaan bukan berdasar kelihaian sang penulis melakukan mobilisasi suara. Yang menang pastilah yang jago dan punya akses memobilisasi suara, sedangkan kita tahu bahwa di sejumlah negara, akses menggunakan internet dikuasai tentara dan politisi,” kata Linda.

Linda Christanty dan Dewi Lestari sepakat bahwa saat ini perjuangan terpenting asosiasi penulis adalah bagaimana penulis dapat hidup sejahtera atau tercukupi dengan hasil menulis. Tanpa kesejahteraan, sangat mungkin seorang penulis menerima penghargaan yang diberikan oleh lembaga yang tidak jelas dan yang berlawanan dengan idealisme dan marwah penulis. Karenanya, perjuangan asosiasi perlu lebih menyeluruh dan menyangkut pembenahan ekosistem. Misalnya, bagaimana penulis bisa berunding dengan lebih berdaya di hadapan penerbit, bagaimana menyusun kontrak, bagaimana melawan pembajakan, dan mendapatkan honor yang layak.

Memperjuangkan marwah penulis tidak bisa dilakukan jika dikerjakan sendiri, tetapi harus berkolaborasi dengan berbagai pihak. Keberadaan asosiasi penulis Satupena bisa menjadi salah satu media untuk perjuangan tersebut. “Kita bisa membentuk koperasi atau wadah lain yang bisa membantu sesama penulis,” kata Linda Christanty menutup paparan. | red