Hot Posts

4/footer/recent

Senin, 02 Februari 2026

78,59 Persen Ekspor Lampung 2025 Lewat Pelabuhan Lokal, Nilai Tembus 5,22 Miliar Dolar AS


Lampung
– Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Lampung sepanjang tahun 2025 menunjukkan capaian yang menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebagian besar aktivitas ekspor Lampung kini sudah memanfaatkan pelabuhan yang berada di wilayah sendiri.

Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel, mengungkapkan bahwa optimalisasi pelabuhan lokal berdampak signifikan terhadap arus keluar komoditas dari Bumi Ruwa Jurai.

“Dari total ekspor Lampung selama tahun 2025, sebanyak 78,59 persen atau senilai 5,22 miliar dolar AS dilakukan melalui pelabuhan yang berada di Provinsi Lampung,” ujar Sabiel dalam pemaparan perkembangan ekspor-impor melalui kanal YouTube BPS Lampung, Senin (2/2/2026).

Angka tersebut menunjukkan semakin kuatnya peran infrastruktur pelabuhan daerah dalam mendukung distribusi komoditas unggulan Lampung ke pasar internasional.

Selain meningkatkan efisiensi logistik, kondisi ini juga memperkuat posisi Lampung sebagai daerah penopang perdagangan luar negeri di wilayah Sumatera bagian selatan.

Pelabuhan Lokal Andalan Ekspor
Sejumlah pelabuhan di Lampung tercatat menjadi pintu utama ekspor, antara lain:

- KSOP Panjang

- KSOP Pelindo

- Labuhan Maringgai (Lampung Timur)
Kota Agung (Tanggamus)

- Kuala Teladas (Tulang Bawang)

- KSOP Bakauheni beserta sejumlah titik sandar lainnya

Pelabuhan-pelabuhan tersebut melayani pengiriman berbagai komoditas unggulan Lampung, mulai dari hasil pertanian, perkebunan, hingga produk turunan industri.

Masih Ada Ekspor Lewat Luar Provinsi
Meski dominasi pelabuhan lokal semakin besar, sebagian ekspor Lampung masih dilakukan melalui pelabuhan di luar provinsi. Salah satu yang paling sering digunakan adalah Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, serta beberapa pelabuhan besar lainnya.

Namun, dengan tren saat ini, pemanfaatan pelabuhan dalam provinsi dinilai terus meningkat seiring perbaikan konektivitas, fasilitas pelabuhan, dan dukungan kebijakan logistik.

BPS menilai kondisi ini sebagai sinyal positif bagi perekonomian daerah karena aktivitas ekspor yang terkonsentrasi di dalam wilayah akan memberikan efek berganda (multiplier effect), mulai dari sektor transportasi, jasa kepelabuhanan, hingga tenaga kerja lokal.

0 #type=(blogger):