BANDAR LAMPUNG — Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) didorong tidak sekadar menjadi wadah kelembagaan ekonomi, tetapi mampu mengambil peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan dan mengoptimalkan potensi pangan yang dimiliki setiap desa dan kelurahan.
Menteri Koperasi Republik Indonesia menegaskan, kekayaan dan potensi yang ada di desa harus dikelola secara produktif agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Salah satu sektor yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui koperasi adalah pangan.
“Utama adalah mengelola kekayaan tersebut untuk membangun masyarakat,” ujar Menteri Koperasi dalam sambutannya pada Seminar Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih se-Provinsi Lampung di Gedung Semergou, Kota Bandar Lampung.
Menurutnya, KDKMP harus mampu melihat potensi ekonomi di wilayah masing-masing, termasuk sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan hingga perdagangan kebutuhan pokok. Potensi tersebut perlu dikelola secara terintegrasi sehingga tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Penguatan koperasi di sektor pangan dinilai penting karena desa memiliki sumber daya yang dapat menjadi kekuatan utama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan pendapatan pelaku usaha lokal.
Melalui KDKMP, hasil produksi petani, peternak, nelayan maupun pelaku usaha pangan diharapkan dapat memiliki akses pasar yang lebih luas. Koperasi juga dapat berperan dalam penyediaan sarana produksi, pengumpulan hasil panen, pengolahan, distribusi hingga pemasaran produk.
Dengan pola tersebut, rantai ekonomi pangan di tingkat desa diharapkan semakin kuat dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap rantai distribusi yang panjang.
Menteri Koperasi menekankan bahwa penguatan KDKMP tidak cukup hanya melalui pembentukan kelembagaan. Pengurus koperasi harus memiliki kemampuan dalam tata kelola usaha, pengelolaan keuangan, serta membaca peluang ekonomi yang sesuai dengan karakter dan potensi wilayah.
“Karena itu, koperasi harus mampu mengelola potensi yang ada sehingga memberikan manfaat dan membangun masyarakat,” tegasnya.
Di Kota Bandar Lampung, Wali Kota Eva Dwiana menyampaikan apresiasi atas kepercayaan pemerintah pusat yang menjadikan Bandar Lampung sebagai tuan rumah seminar yang melibatkan pemangku kepentingan desa dan kelurahan dari seluruh Provinsi Lampung.
Eva mengatakan, Kota Bandar Lampung memiliki sekitar 1,3 juta penduduk dengan luas wilayah sekitar 18.370 hektare yang terbagi dalam 20 kecamatan dan 126 kelurahan.
Menurut Eva, pemerintah pusat juga telah memberikan dukungan dana awal bagi koperasi di Bandar Lampung. Pemerintah kota selanjutnya akan memberikan pembinaan agar 126 KDKMP yang ada dapat berkembang dan menjalankan usaha sesuai kebutuhan masyarakat.
“Harapannya, koperasi di Bandar Lampung dapat dikunjungi oleh Bapak Menteri Koperasi. Kami juga akan terus membangun secara bertahap 126 koperasi yang ada di Bandar Lampung,” kata Eva.
Sementara itu, Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus RI Aries Marsudiyanto menilai riset dan inovasi menjadi faktor penting dalam mengembangkan produk unggulan masyarakat desa, termasuk produk pangan.
Menurutnya, potensi pangan di setiap wilayah memiliki karakteristik berbeda sehingga membutuhkan dukungan riset agar dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan daya saing.
Aries juga mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi riset dan inovasi dengan pemerintah daerah serta koperasi. Dukungan tersebut diperlukan agar komoditas yang dihasilkan masyarakat tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi.
Kolaborasi antara pemerintah, KDKMP, petani, nelayan, pelaku UMKM, dunia usaha, dan lembaga riset dinilai menjadi kunci dalam membangun ekosistem pangan yang kuat dari tingkat desa dan kelurahan.
Dengan demikian, KDKMP diharapkan dapat menjadi simpul ekonomi pangan yang menghubungkan produksi masyarakat dengan kebutuhan pasar. Koperasi tidak hanya menjadi tempat berhimpun, tetapi juga menjadi penggerak produksi, pengolahan, distribusi, dan pemasaran pangan.
Pengelolaan potensi pangan secara produktif melalui KDKMP pada akhirnya diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, membuka lapangan usaha, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari tingkat desa dan kelurahan.

0 Komentar