Hot Posts

4/footer/recent

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label sampah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sampah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Juli 2023

Ike Edwin Hadiri Diskusi Publik Tentang Hasil dan Dampak Pembersihan Sampah Yang Ada Di Pesisir Balam


GK, BANDAR LAMPUNG - Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai Demokrat Dr H Ike Edwin S.H., M.H., M.M., menjadi salah satu Narasumber dalam diskusi yang di adakan oleh "Kelas Politik" di The Palm Cafe jl Sultan H no 78 Sepang Jaya, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung, Rabu (19/7/2023).

Adapun tema dari diskusi tersebut adalah "Setelah 3700 Orang Bersihkan Sampah, Lalu Bagaimana?." Dengan tujuan membahas hasil dan dampak dari kegiatan pembersihan sampah di pesisir kota oleh 3700 orang, dan membahas langkah-langkah konkrit yang dapat diambil untuk menjaga kebersihan lingkungan di pesisir kota, serta merumuskan rekomendasi kepada pemangku kepentingan terkait untuk tindakan lebih lanjut.

Selain Dang Ike sapaan akrab mantan Kapolda Lampung itu, sebagai narasumber lainnya adalah, Anggota DPRD Provinsi Lampung Joko Santoso, Lesty Putri Utami,  anggota DPRD kota Bandarlampung  Ilham Alawi, Direktur WALHI Lampung Irfan Tri Musri, Influecer Lampung Ikram Afro, Akademisi UBL Okta Ainita, dengan dimoderatori oleh Dina Puspa selaku Founder kelas politik.

Dalam paparannya Dang Ike mengatakan, untuk masalah sampah di kota Bandar Lampung  jangan saling menyalahkan, apalagi menyalahkan masyarakat.

"Untuk mengatasi masalah sampah di kota Bandar Lampung ini, kita jangan saling menyalahkan bahkan saling lempar tanggung jawab, apalagi menyalahkan masyarakat," ujar Dang Ike.

Yang terpenting bagi pemerintah baik Pemkot maupun Pemprov tunjukkan kinerja yang baik terutama dalam mengatasi masalah sampah.

"Yang terpenting bagi pemerintah adalah, tunjukkan kinerja yang baik terutama dalam mengatasi sampah terutama di daerah pesisir kota Bandarlampung ini," katanya.

Selain itu menurut Dang Ike pemimpin juga harus turun ke lapangan untuk memberikan edukasi, contoh kepada masyarakat dalam hal kebersihan lingkungan.

"Terutama para pemimpin, stakeholder yang ada bila perlu terjun langsung ke lapangan untuk memberikan edukasi atau contoh kepada masyarakat tentang pentingnya kebersihan lingkungan," ucap Dang Ike.

Juga menurut Dang Ike, perencanaan, program dan regulasi serta anggaran juga harus benar-benar dibuat secara matang dan sistematis.

"Pemerintah bersama DPRD serta pegiat-pegiat dan aktivis pencinta lingkungan serta orang-orang yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan untuk dapat duduk bareng  dalam membuat program perencanaan yang matang dan sistematis, serta mengatur anggaran sedemikian rupa agar kebersihan lingkungan bisa terwujud," tandasnya.

Bila perlu kata Dang Ike, pemerintah agar mencari investor yang mau dan mampu untuk melakukan pengelolaan sampah agar menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat kembali bagi masyarakat.

"Untuk mengatasi tumpukan sampah yang semakin hari semakin bertambah, bila perlu pemerintah mencari investor yang mau dan mampu untuk melakukan daur ulang atau mengelola sampah itu menjadi hal yang berguna dan bermanfaat kembali bagi masyarakat." Pungkasnya.

Ditempat yang sama Almuheri Faksi, seorang aktivis lingkungan mengatakan bahwa pola pengelolaan sampah berbasis teknologi harus dituntaskan.

"Pengelolaan sampah berbasis teknologi harus dituntaskan, karena semua yang dilakukan selama ini lebih kepada memindahkan tumpukan sampah ke TPA," katanya. 

Dari hasil diskusi serta masukan dari para narasumber dan peserta diskusi, nantinya akan dirumuskan rekomendasi kepada pemangku kepentingan terkait tindak lanjut dalam menangani masalah lingkungan terutama sampah. [Feby]

Senin, 17 Januari 2022

Emak-emak Punya Penghasilan Tambahan Melalui BSE.ID



GK, Bandar Lampung -
Warga beramai-ramai membawa sampahnya menuju rumah Elismawati yang terletak di Jalan Dr. Setia Budi, Sukarame 2, Kecamatan Teluk Betung Barat, Kota Bandar Lampung pada hari Senin (17/1/2022).

Hasil wawancara gariskomando.com, diketahui bahwa Elismawati merupakan Ketua Kelompok (Koordinator) Bank Sampah Emak yang ada di daerah tersebut. Mereka menamai Kelompok Bank Sampahnya yakni Banksampahemak.id (BSE.id Sukarame 2 TBB).

"Kami baru membentuk kelompok Bank Sampah sekitar satu bulan ini, dan baru hari ini mengumpulkan sampah," ucap Elismawati.

"Saya sebagai Ketua Kelompok di BSE.id Sukarame 2 TBB ini, tugas saya mengajak anggota untuk mengumpulkan sampah dan mendatanya sebelum dijual," ujarnya.


Anggota mereka sendiri saat ini baru berjumlah 10 orang, dan setiap anggota memiliki buku tabungan. Jadi setiap hasil dari penjualan sampah anggota, akan masuk dalam buku tabungan masing-masing dan uang yang terkumpul baru bisa dilakukan penarikan oleh anggota setelah sedikitnya terkumpul Rp. 100 ribu.

Hal tersebut dijelaskan oleh Riki selaku anggota Banksampahsmak.id mewakili founder BSE.ID Agus Solihin, S.Pi., yang berkantor di Jalan Imam Bonjol, Gg. Darussalam No.134 Kelurahan Langkapura Baru, Kecamatan Langkapura, Kota Bandar Lampung.

"Saya sebagai anggota Bank Sampah Emak yang bertugas menimbang dan mengambil sampah dari kelompok-kelompok, setiap anggota kelompok ini memiliki buku tabungan. Baru bisa mereka ambil uangnya setelah tabungan mereka mencapai sedikitnya 100 ribu rupiah," jelas Riki.

Hal tersebut mereka lakukan untuk mendukung realisasi dari Program Pemerintah Provinsi Lampung yang mana menjaga kebersihan menjadi hal utama dalam sendi kehidupan di Provinsi Lampung. Di Kota Bandar Lampung sendiri, terdata berton-ton sampah yang dihasilkan setiap harinya, dan jika dikalikan sebulan bahkan setahun kapasitas tempat pembuangan akhir tentunya akan menggunung.

Riki juga mengharapkan, lebih banyak lagi emak-emak yang ikut dalam Banksampahemak.id ini karena keuntungannya akan menjadi penghasilan tersendiri untuk ibu rumah tangga dan akhirnya sampah akan terkendali.

"Kami berharap kepada emak-emak untuk bergabung dalam program Banksampahemak.id ini karena banyak manfaat yang didapat baik dari nilai ekonomi dan sosial," ucap Riki. (Sur)

Kamis, 23 September 2021

Memilih dan Memilah Serapah di Antara Sampah


Artikel -
Gunungan sampah bertumpuk-tumpuk di tepi jalan raya (dokumen pribadi)

Wajah pagi kusut. Matahari enggan beringsut. Burung-burung mendadak gagap, gagal berkicau, serak bersuara gagak.

Gumpalan hitam dari cerobong menjumpai asap melengking dari pantat angkot, dari laju mobil-mobil, dari pekik motor-motor penyebab telinga pekak pengantar manusia-manusia egois.

Bagaimanapun, bengisnya udara dan suara merupakan hal lumrah bagi buruh berseragam kuning. Tanpa sarung tangan, mereka terampil mengaduk-aduk tumpukan buangan dari berbagai rumah.

Memilih sembari memilah sampah, kadang disertai dengan serapah, ketika menemukan partikel teramat bau yang menembus masker berlapis-lapis.

Ia berupa sisa-sisa makanan, atau potongan-potongan, sedang disantap belatung-belatung putih. Bisa juga berwujud mikroorganisme tidak kasat mata pengurai barang busuk menguarkan hawa bacin.

"Kenapa sih orang-orang bebal itu tidak mau memilah," serapah seseorang sambil memilih kardus basah dari tumpukan sampah dengan tangan kosong.

"Itulah susahnya. Sudah berkali-kali ibu-ibu, ART, duda, dan bapak-bapak di permukiman mewah diingatkan," berkacak-pinggang, saya menghembuskan kesal bersama asap putih sisa bakaran tembakau, demi membelokkan bau menyengat agar tidak masuk hidung.

Sekali lagi, serapah membubung menyertai bau anyir tumpukan sampah amis, bertubi-tubi dari mulut-mulut nyinyir.

Angan mengapung, teringat pengharapan saya kepada para penghuni rumah megah, agar memilih dan memilah buangan, sebelum dikumpulkan di bak sampah. Menyisihkan barang anorganik dari limbah organik.

Membungkus kertas, kardus, botol plastik bekas minuman, dan materi yang dapat didaur ulang dalam satu wadah. Barulah jasad mudah busuk dikumpulkan dalam wadah lain dengan ikatan kuat, atau bertutup rapat.

Kemudian kantong-kantong yang sudah dipilah, diletakkan pada bak sampah secara terpisah. Demikian agar petugas pembersihan mampu bekerja sigap.

Bahan mudah hancur segera dikirim ke tempat pembuangan akhir. Anasir keras dapat ditukar dengan lembaran kertas pembeli roti, juga kopi, kepada pengepul barang bekas.

Namun para penghuni rumah-rumah mewah itu bengal, bego, bebal, gemblung, dan berotak-udang, tidak mengindahkan imbauan saya yang berbusa-busa. 

Mengesalkan!

Mereka masih saja tidak memilih dan memilah limbah, juga membuangnya dengan sembarangan di luar bak sampah.

Sekali lagi. Dan kemudian, sekali lagi selama berkali-kali saya mengingatkan mereka. Upaya itu menumbuhkan benih terang. Dengan menggerutu, sebagian warga mulai memilih dan memilah sampah. Membuang pada tempatnya.

Perlu usaha sekali lagi selama berkali-kali untuk menyadarkan selebihnya, mengenai pentingnya memilih dan memilah sampah, demi mengindahkan kelestarian lingkungan. Sekaligus memerhatikan keperluan petugas kebersihan akan roti dan kopi.

Ikhtiar saya tidak sia-sia. Pada akhirnya, seluruh warga permukiman mewah berisi rumah-rumah megah meluluskan seruan saya. Kini mereka mau memilih dan memilah sampah, juga membuangnya di tempat yang telah ditentukan.

Tiada lagi gunungan sampah bertumpuk-tumpuk. Tiada lagi bau bacin yang menyengat dari buangan busuk.

Atas pencapaian tersebut, atasan langsung saya memberikan penghargaan berupa kenaikan jenjang karier.

"Dengan ini, Anda dipromosikan kenaikan pangkat dan menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan pada departemen baru."

Saya membayangkan kursi empuk, meja mahoni dalam ruang dingin, yakni bagian dari Departemen Pembinaan Maling Duit Rakyat.

Saya membayangkan tampang-tampang koruptor brutal, bengal, bego, bebal, gemblung, dan berotak-udang, yang bahkan sama sekali tidak bisa diberi nasihat oleh siapa pun, oleh ajaran kebaikan mana pun.

Saya tidak mampu membayangkan, cara-cara memilih dan memilah serapah di antara sampah masyarakat.

"Kampret!"

Dilansir dari Penulis: Budi Susilo